Yayasan Pendidikan Telkom Gelar Seminar Pentahelix

Diunggah pada 03 April 2017, pukul 10:58

Purwakarta – Yayasan Pendidikan Telkom melalui Direktorat Primary & Secondary Education, pada Rabu (29/03) menggelar forum Seminar Pentahelix Untuk Indonesia yang bertempat di Janani Grand Ballroom Hotel Harper Purwakarta. Seminar yang merupakan salah satu rangkaian acara Rakordik YPT ini mengangkat tema “Sekolah Vokasi Berkarakter Sebagai Pendukung Pembangunan Infrastruktur ICT Akses Fiber Optik dalam Menyukseskan NAWACITA”.

 

Turut hadir dalam seminar ini Direktur HCM PT. Telkom Akses Beni Sukawanto, Ketua Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) Dwi S. Purnomo bersama jajaran Board of Director dan VP YPT, Para Pimpinan anak perusahaan YPT, Perwakilan Dinas Pendidikan Jawa Barat dan Jakarta,  serta lebih dari 20 Kepala SMK Negeri maupun Swasta juga 52 Kepala Lembaga Pendidikan di bawah naungan YPT.

 

Konsep Pentahelix yang diusung dalam seminar ini fokus pada bahasan pemenuhan SDM Jaringan Akses dengan kolaborasi dari pihak stakeholder pentahelix yaitu Academic, Business, Community, Government, dan Media (A-B-C-G-M). Digelarnya seminar ini dilatarbelakangi oleh terbatasnya kualitas dan jumlah sumber daya manusia (SDM) lokal untuk membangun dan mengoperasikan jaringan Broadband(BB) dalam sistem  infrastruktur ICT yang juga menjadi salah satu program NAWACITA pemerintah melalui proyek Palapa Ring.

 

Adanya sekolah vokasi bidang jaringan akses fiber optik merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada khususnya di bidang SDM. Untuk lebih meningkatkan keberhasilan sekolah dalam mendidik SDM yang siap pakai di bidang jaringan akses fiber optik, maka diperlukan masukan dan diskusi komprehensif melalui Seminar Pentahelix. Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam acara seminar ini yaitu sharing informasi arah dan kebijakan Pemerintah RI dalam pengembangan sekolah vokasi dikaitkan dengan kebutuhan global, regional dan nasional atas pendidikan & kesiapan tenaga kerja.

 

Acara seminar ini turut mengundang lima narasumber dari masing-masing stakeholder untuk menjadi pembicara dan sharing info berkaitan dengan tema yang diusung. Adapun Narasumber yang memberikan materi pada Seminar Pentahelix ini yaitu Dirjen Pendidikan Dasar & Menengah (Dikdasmen) Hamid Muhammad, M.Sc., PhD yang diwakili oleh Sekertaris Ditjen (Setditjen) Dikdasmen Dr. Thamrin Kasman yang juga berperan sebagai Keynote speaker dalam seminar ini, Dr. Ir. Rina D. Pasaribu., MSc., dari pihak akademisi juga selaku Director of Primary & Secondary Education YPT,  Gunadi Dwi Hantoro,MM., yaitu selaku VP R&D PT. Telkom Akses, Tri Hartono Pamilih selaku Ketua APJATELNAS dan Nasihin Masha selaku Pemimpin Redaksi Republika.

 

Dalam paparannya, Setditjen Thamrin Kasman menjelaskan Dapodik yang diterima oleh Dasmen saat ini mengenai sarana dan prasarana (sarpras) dari SMP sampai SMA sudah mencapai standar minimal. Pihak Dikdasmen harapkan ada kerjasama sekolah dan Pemda untuk melihat evaluasi standar yang dilakukan setiap tahunnya. Yang diperlukan dalam sekolah adalah sarpras yang ideal, contohnya adalah sekolah vokasi harus itu harus memiliki ruangan praktek yang lengkap dan memadai. Dari sisi SDM, Thamrin Kasman menjelaskan bahwa Dikdasmen mensupply SDM sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan pasar dan kelayakannya. Jumlahnya mencukupi pasar dan dipekerjakan memadai sesuai dengan kompetensinya.


? ?Kedepannya diharapkan volume untuk sertifikasi siswa dan lulusan agar diperbesar melalui Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Perannya, KKNI ini harus berbarengan supaya SDM dapat diterima oleh masyarakat. Tidak perlu menunggu lulus untuk mendapatkan sertifikasi karena yang terpenting adalah skill-nya,” ujar Thamrin Kasman yang ditemui usai memaparkan materi.


? ?Dari sisi industri, Direktur HCM PT. Telkom Akses Beni Sukawanto menjelaskan bahwa kebutuhan SDM dalam industri jaringan akses masih sangat besar karena pada masa 30 tahun mendatang fiber optik akan dipastikan masih tetap  eksis. Oleh karena itu PT. Telkom Akses membuat perjanjian jangka panjang dengan YPT khususnya terkait dengan alumni SMK di kejuruan Teknik Jaringan Akses yang mempunyai kelas fiber optik sehingga PT. Telkom Akses dapat menghemat waktu untuk mempersiapkan tenaga kerja. “Biasanya kita membutuhkan waktu 6-9 bulan untuk menyiapkan supply, tetapi karena Alumni SMK Telkom memang sudah ada di jurusan fiber optik bisa dikatakan  mereka sudah ready  di lapangan,” Ujar Beni Sukawanto.

 

Sedangkan dari sisi akademik, Rina D. Pasaribu memaparkan bahwa pada tahun 2030, Indonesia akan punya tenaga kerja yang sangat banyak, dan disinilah menurutnya peran akademisi dibutuhkan. “Banyaknya tenaga kerja itu harus meningkatkan kewaspadaan kita karena itu bisa jadi manfaat atau mudarat, disinilah peran kita sebagai akadmisi untuk mengarahkan dan membangun SDM yang berkarakter dan berkualitas,” jelasnya di hadapan puluhan Kepala Sekolah Dikdasmen dan peserta seminar.

 

Gelaran seminar Pentahelix diakhiri dengan penyerahan cinderamata dari YPT untuk narasumber yang sudah mengisi sesi forum Ini. Dengan diselenggarakannya seminar ini, diharapkan dapat memberikan informasi kepada masing-masing stakeholder guna lebih bekerja sama untuk memperhatikan serta mengembangkan Sekolah Vokasi khususnya di bidang Akses Fiber Optik sehingga dapat menghasilkan SDM yang mumpuni dan mampu diserap oleh industri Jaringan Akses Fiber Optik. (MG Purel/YPT)

 


 
 

© 2018, Yayasan Pendidikan Telkom, karya dan hak cipta dilindungi undang-undang.