Workshop Kurikulum Menjaga Link & Match Sekolah

Diunggah pada 21 Desember 2017, pukul 14:03



YPT melalui Direktorat Primary&Secondary Education (PSE) menggelar Workshop Kurikulum untuk SMK TELKOM pada 11-12 Desember 2017 di Grand Tjokro Jakarta dan SMK Telkom Jakarta. Kegiatan ini diikuti 30 peserta yang terdiri dari Waka Kurikulum dan Ka Prodi dari SMK Telkom yang berlokasi  di Pulau Jawa, selain pihak internal diikuti juga oleh wakil dari pemerintah  dan industri.

Dalam kegiatan ini difokuskan bagaimana menjaga link & match  pelaksanaan pembelajaran dan materi-materi terupdate yang dibutuhkan dunia industri serta aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah agar bisa menjaga kualitas lulusan.

Hadir dalam  workshop Pitoyo Nugroho mewakili Direktorat PSMK   sedangkan dari  dunia industri  bergaung dari  Huawei, Arcademy, Telkom DDS.  Dalam  workshop hari pertama yang khusus internal   para Waka  Kurikulum dan Ka Prodi  melakukan sharing tentang  kelebihan dan kesulitan yang terjadi di sekolah masing-masing dalam mengatur link & match  sehingga  bisa saling tukar pengalaman untuk perbaikan Telkom Schools.

Dalam pembukaannya VP Secondary and Vocational Education Yanuardi K.Baskoro mengatakan Yayasan Pendidikan Telkom, mengarahkan agar sekolah bisa link & match dengan dunia usaha dan industi. Sehingga lulusan SMK Telkom dinantikan oleh industri.

“Struktur kurikulum yang bagaimana yang sebaiknya dirancang oleh sekolah di tahun ajaran baru nanti akan diputuskan dalam workshop ini,”jelasnya.

Presiden Joko Widodo mengintruksikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk merevitalisasi SMK melalui Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan dan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia. Yayasan Pendidikan Indonesia yang mengelola 10 SMK di Indonesia merasa tertantang untuk meningkatkan kualitas sekolahnya. Sejak tahun 2015 YPT telah membuat standar-standar untuk peningkatan sekolahnya standar itu dikenal dengan TS.2.O.

Dalam sharingnya Pitoyo Nugroho wakil dari  Direktorat PSMK menuturkan konsep tripartit dalam link and match sekolah terdiri dari 3 pihak yaitu regulator yang mengatur  pelaksanaan kerjasama, perusahaan sebagai destination penggunanya dan sekolah adalah inkubator.

“Kami yakin SMK Telkom telah berkembang maju karena dibangun dari industri besar sehingga bukan saja lulusannya bisa disalurkan ke industri yang dimiliki Telkom, namun sekolah ini berkembang sesuai bisnis yang dikelola oleh Telkom,”tuturnya.

Upaya link & match  SMK Telkom sudah berjalan  di SMK  SMK yang dimiliki YPT. Seperti yang terjadi di Telkom Purwokerto  dikenal dengan yaitu Zero Jobless  yaitu  dengan program sebagai berikut:

1.Membekali anak-anak agar dapat diterima bekerja secara profesional.

2.Menerbitkan sertifikasi Prakerin bukan hanya dilakukan di Telkom group   namun dengan industri lain.

3.Mengatur Kurikulum yaitu memanfaatkan waktu 2 (dua) jam di hari Jumat sore   untuk pendidikan karakter – dengan menghadirkan narasumber praktisi dari   eksternal (kepolisian, BNN, alumni) juga lembaga lain yang memiliki   keterkaitan dengan mata pelajaran

4.Memiliki program karyawisata disisipi dengan benckmark ke lembaga yang   terkait dengan pelajaran normatif & adaptif.

Di SMK Telkom Malang Program link & match disambut baik  meskipun SMK yang sejak awal berdirinya ini mengkhususkan pada bidang IT namun  tuntutan link and match SMK ini mulai membuka prodi lain. Langkah ini diambil selain fakta yang terjadi  di lapangan  bahwa ketika  masuk  sekolah berebut prodi  Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), sebaliknya  pada saat mau lulus menolak dengan RPL alasan siswa kurang menyukai coding. Tuntutan siswa  menguasai life skills menjadi perhatian dalam penyusunan kurikulum.  (rin/DPSE)
 
 

© 2018, Yayasan Pendidikan Telkom, karya dan hak cipta dilindungi undang-undang.