Lima Universitas Terkemuka Indonesia Terima Beasiswa Jepang

Diunggah pada 22 Maret 2017, pukul 09:48

Bandung Telkom University – Dalam rangka sinergi kemitraan dalam bidang pembangunan sumber daya manusia, antara Indonesia dan Jepang, Japanese Student Service Organization (JASSO) berikan beasiswa kepada lima Universitas terkemuka di Indonesia untuk mengikuti Spring Program di Kumamoto University, Jepang pada tanggal 14 – 23 Februari 2017.

 

Salah satu yang terpilih adalah Telkom University. Adapun delegasi Telkom University yang mendapatkan kesempatan emas tersebut sebanyak lima orang, antara lain Faldi Dinurwan (MBTI 2013), Nanda Tri Mahar (IKOM 2014), Firda Aminy Ma’ruf (T. Informatika 2014), Eco Jatmiko Panggabean (T. Industri 2014), dan Aldian Muhammad Ramadhan (T. Industri 2015). Sebuah jumlah delegasi yang cukup banyak dari Telkom University karena 16 orang delegasi Indonesia lainnya berasal dari ITS, UNAIR, UGM, dan ITB.

 

Segala persiapan pun dilakukan oleh para calon delegasi Telkom University sejak pengumuman beasiswa tersebut hingga akhirnya pada saat semua persiapan dirasa sudah cukup, diadakanlah briefing para-keberangkatan pada hari Jumat, 10 Februari 2017 di International Office Telkom University. Tujuan dari briefing tersebut adalah mematangkan persiapan para delegasi Telkom University sebelum keberangkatan sehingga lebih siap dalam menjalani program.


Saat tiba di kota Kumamoto pada tanggal 14 Februari 2017, seluruh delegasi Telkom University harus beradaptasi dengan cuaca di Jepang yang dingin karena saat itu sedang terjadi peralihan dari musim dingin ke musim semi dan kelembapan di Jepang tipis, sangat berbeda dengan Indonesia yang tropis. Tibalah saatnya pembukaan program dimulai tanggal 15 Februari 2017 dimulailah pembukaan dan orientasi 2017 Spring Program Kumamoto University. Di acara orientasi tersebut diadakan pembagian grup atau kelompok. Total grupnya yaitu sebanyak 10 grup yang terdiri dari 80 orang peserta yang berasal dari 12 negara yang berbeda dan delegasi Tel-U berada grup yang berbeda. Dengan latar belakang budaya, agama, dan bahasa yang berbeda, dibutuhkan toleransi yang tinggi dalam berinteraksi. Terutama dalam pengucapan bahasa Inggris yang setiap peserta mempunyai dialek yang berbeda dalam pengucapannya. Namun, itu semua tidak menjadi hambatan yang berarti. Karena dari sinilah kita dapat mengasah kemampuan bahasa Inggris agar menjadi lebih baik dan lebih siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta Perdagangan Bebas Dunia pada tahun 2020. 

 

Setelah selesai orientasi dan saling mengenal satu sama lain terutama di dalam grupnya, peserta disuguhkan beberapa materi kuliah hingga penutupan program. Materinya sangat menarik untuk dipelajari dan dengan disampaikan oleh profesor di Kumamoto University yang telah berpengalaman di bidangnya. Tema perkuliahan diantaranya, “Kumamoto Earthquake in AsoInteresting Geological Sites in AsoMinamata DiseaseLand of WaterWater SustainabilityJapanese Sweets, J-Pop, dan Marriage and Family in Japan”. Selain perkuliahan di kelas, pseserta juga diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang sesuai dengan tema perkuliahan diatas agar lebih memudahkan peserta dalam memahami dan mengimplementasikan ilmu perkuliahan yang telah didapat di kelas. Tempat tempat yang peserta kunjungi adalah Mount Aso, Aso Vulcanic Museum, Aso Shrine, Michi-no-eki Aso, Kengun Water Center, Minamata Disease Museum, Minamata Information Center, dan Minamata Memorial.


Untuk mendalami kearifan lokal budaya Jepang, peserta pun diberi kesempatan untuk membuat kaligrafi Jepang atau Kanji. Di sana peserta mengekspresikan dirinya melalui kaligrafi tersebut. Ada yang menulis nama keluarga, istilah istilah, dan lain lain. Lalu, setelah perkuliahan Japanese Sweets peserta pun diberi kesempatan untuk membuat Wagashi atau manisan Jepang yang berasal dari bahan kacang kacangan dan menggunakan pewarna makanan yang aman. Pada kesempatan tersebut peserta diberikan bahan mentah Wagashi berupa bola warna warni dan dapat dibentuk sesuai kehendaknya layaknya lilin mainan ataupun plastisin. Pola pikir “Think Global Act Local” pun semakin terbentuk di benak para peserta dengan adanya presentasi seputar hal yang telah didapat selama program dan negara asal peserta kepada siswa/i SMA yang ada di Kumamoto. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta karena selain harus menggunakan istilah bahasa Inggris yang mudah, media dan cara penyampaian peserta semenarik mungkin sehingga dapat lebih mudah dimengerti oleh siswa/i SMA tersebut. Dalam waktu senggang pada tanggal 19 Februari 2017 tak lupa delegasi Telkom University menghadiri Kumamoto Castle Marathon, makan malam dan foto  bersama di Muten Kura Sushi untuk lebih menjaga kekompakan.

 

Tibalah tanggal 22 Februari 2017, dimana tanggal tersebut membuat sebagian peserta sedih karena akan diadakan penutupan program. Di penutupan program diadakanlah pembagian sertifikat dan foto bersama seluruh peserta. Untuk melanjutkan komunikasi dan hubungan pertemanan setelah kembali ke negaranya masing masing, antar peserta telah “berteman” dan saling berkomunikasi di sosial medianya masing masing. 

 

Closing ceremony tersebut hanyalah sekedar “simbol” penutupan program. Namun, itu bukan lah akhir dari segalanya. Masih banyak PR untuk membuat Indonesia lebih baik. Diharapkan dari program ini delegasi Telkom University dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat untuk memajukan Indonesia, khususnya kota Bandung. (Tel-U/YPT)

 
 

© 2018, Yayasan Pendidikan Telkom, karya dan hak cipta dilindungi undang-undang.